MY BEST FRIEND EVER
“Sahabat” sebuah kata yang dahulu menurutku itu gak ada, bullshit and nothing. Aku nggak percaya dengan yang namanya sahabat, menurutku sahabatku ya hanyalah diriku. Sehingga akhirnya terbentuklah karakter introvert, dengan segala keegoisan dan kearoganan di dalam pribadi diri. Membuatku tak suka bersosialisasi, tidak percaya teman, suka menyimpan masalah sendiri, dan tampak sombong di mata orang lain. Teman – temanku tak banyak, hanya 2 atau 3 orang saja, dan kepada mereka aku hanya mampu berbagi dalam bidang akademik. Namun semua berubah drastis, ketika kutemukan sahabat yang sebenarnya. Yeah finally i got it.
“Reza ini penakut lho”, satu kalimat yang paling mengena untukku darinya. Sahabat yang baru aku kenal kurang dari 1 tahun, namun seperti sudah berteman akrab sejak lama. Sahabat yang selalu ada di saat suka atau duka, selalu mengingatkan aku pada Allah, serta memberi banyak ilmu dan makna arti penting kehidupan. Yah begitu beruntungnya diri ini bisa mengenal dan berkawan dengannya.
Awalnya aku nggak tahu kenapa bisa kenal dengan bocah ini. Namanya Ahsan, begitu sih panggilan teman – teman SMAnya, ya aku panggil dia Ahsan juga lah. Umurnya berbeda 3 tahun lebih muda dariku, namun karena sudah dekat maka kami saling panggil nama tanpa sebutan kakak, bahkan sebenarnya dia jauh lebih dewasa dan menjadi figur kakak. Pertama kali ketemu di Islamic Centre (lupa tanggal berapa) pas shalat jum’at. Awalnya aku nggak tahu namanya, hingga akhirnya ketika ada seleksi PKAB Universitas, aku menemukan nama teman sebangkunya yang diterima di Universitasku, Irfan. Lewat dialah bisa tahu nama dan berkenalan. Sejak itulah mulai mengenal dan ternyata dia mau study abroad. Wah kebetulan banget aku paling berminat untuk study abroad, jadilah kami sering mengobrol, membicarakan banyak hal tentang study abroad, nama universitas serta banyak hal lainnya. Tujuan negara kita beda, aku lebih fokus ke United Kingdom (U.K) sementara dia ke Jerman, tapi overall sama – sama di eropa, jadi gak masalah. Bahkan dari dialah aku tahu banyak tentang kuliah di Jerman, membuat diri sadar bahwa untuk kalangan orang sepertiku, Jerman adalah negara Eropa paling ideal untuk dijadikan tujuan study. Alasannya selain bagus untuk lanjut study teknik, juga karena MURAH.
Anaknya unik, aneh (Bahkan dirinya yang mengklaim bahwa dia aneh), dewasa, mandiri, pintar. Hoby anak ini adalah belajar, hampir setiap bertemu dengannya kami selalu belajar dan belajar, bahkan kalau main, pasti ngajaknya ke gramedia. Dia paling suka jika kami belajar bahasa inggris, jadi dengan modal bahasa inggris seadanya maka sering aku ajarkan bagaimana cara menulis dan membuat kalimat dalam bahasa inggris. Ni ada dialog waktu kami belajar bahasa Inggris J
Eza : “Why did you ask me about my schedule on Idul Adha?
Ahsan : “Oh i just question”
Eza : “ Aaa.. you wrong bro, that should be “oh i just asked”
Ahsan : “Arti question apa?”
Eza : “Artinya pertanyaan, dia kata sifat bukan kata kerja, kalo nanya ya pake kata kerja
Lah, jadinya I asked, ngerti?”
Ahsan : “Iya ngerti”
Di situlah aku tersadar, bahwa banyak hal positiv yang menyenangkan karena dilakukan bersama sahabat. Karena ketertarikan yang sama itulah, kami bisa dekat bahkan sudah seperti saudara sendiri. Terlebih kakak atau adik kami perempuan semua, maka kami jadi lebih dekat dan seperti memiliki saudara cowok. Aku anak pertama dan memiliki 2 orang adik perempuan, sementara dia anak bungsu dengan 3 orang kakak perempuan. Ya, dengannya diriku bisa terbuka dan banyak membagi kisah hidup ini, sehingga diri tidak lagi sesak karena menampung semuanya sendirian. Banyak nasihat dan pelajaran yang sering dia berikan ketika aku menceritakan permasalahan di kehidupanku. Bagaimana kita sebagai manusia harus bisa menanggapi masalah dengan kepala digin, hati ikhlas dan dengan kebijakan serta kedewasaan.
Pernah aku bertanya tentang sifat childishku yang masih sering kentara dan terkadang menjadi bahan olok – olokan teman. Namun dia mengatakan “Gak masalah Za mau childish atau dewasa, yang penting bisa tampil baik bagi orang lain dan membuat diri antum nyaman. Karakter setiap orang berbeda, justru itulah yang membuat hidup berwarna. Coba bayangkan jika di dalam bus isinya pendiam atau cerewet semua, pasti kaya kuburan atau pasar kan?, yang penting kita harus terus memperbaiki diri J”. Membuat diri ini sadar, bahwa kita harus tampil apa adanya senyaman kita, namun mampu membuat orang lain nyaman juga. Terlebih aku kini paham bahwa masih banyak orang lain yang merasa nyaman dengan sifat diri ini, salah satunya ya Ahsan.
Seiring berjalannya waktu, kami jadi semakin dekat. Banyak hal yang bisa kami bagi, kami share bersama, cerita di saat suka dan duka, cerita motivasi yang bisa membangun diri, cerita tentang kehidupan pribadi, cerita humor yang mengelitik, bahkan cerita tentang sains dan kebudayaan suatu negara. Meskipun terkadang ada sedikit perselisihan, salah paham, namun herannya aku tak bisa marah pada anak ini, selalu memafkan dan senyum yang selalu menyertai. Apabila ia meminta tolong suatu hal selalu kata “Insya Allah, iya” yang keluar dari bibir ini, tak pernah terbersit kata – kata “Tidak” di otak ini.
Juli 2010, saat – saat terkelam di masa perkuliahku. Pertamina menunda kerja praktik yang seharusnya berjalan di bulan itu dan menundanya hingga bulan Januari. Kecewa, terpukul, kaget, sedih, speechless, takut, semuanya ada dan berkumpul jadi satu di dada dan otakku. Sesak, terlebih sebagian teman – teman kuliah sedang kerja praktik dan tak ada yang bisa dijadikan tempat berbagi kecuali Ahsan. Namun dia lagi di Yogya dalam rangka intensive bahasa Jerman, pasti akan mengganggunya jika bercerita, namun hmmffftttt... karena terlalu sesak akhirnya kuceritakan semuanya dengan Ahsan. Dia tak marah, ditengah kesibukannya dia masih bisa memberikan kata – kata penghiburan dan juga memberi semangat di diri. “Percuma antum menghabiskan waktu hanya untuk menyesali sesuatu yang buruk, lebih baik waktunya digunakan untuk hal yang lain kan?”. Akhirnya aku bisa kembali seperti dulu, dan bisa menerima kenyataan bahwa yah inilah jalanku.
Ada 2 message yang sampai sekarang masih kuat terekam di dalam benakku. Yang pertama ketika diri ini sakit sepulang dari Cilacap, mungkin karena stress sehingga diri ini jatuh sakit. Hanya dia yang care saat itu dan mengirimkan pesan “Ya udah istirahat dulu sana... cepet sembuh ya J”, kata yang sederhana namun maknanya sangat dalam. Kedua adalah sms selamat ulang tahun darinya yang berisi doa tulus ikhlas yang bahkan masih tersimpan hingga kini. “Assalamualaikum w.w Za. Selamat milad ya Za, semoga dimudahkan dalam segala urusan. Dan doa – doanya diijabah, Amiiinn. Oiya, saya baru besok sore ke karangnya, jadi Insya Allah baru sabtu pagi bisa ke rumah antum.. J” Simple dan gak neko – neko, gak kaya ucapan dari teman2 kebanyakan yang terkesan lebay.
Suatu malam, 1 hari setelah aku berulang tahun, dia menginap di rumahku seperti biasanya. Dari kotabumi ke Bandar Lampung hanya untuk main dan belajar di rumah sambil merayakan ultahku. Pukul 2 aku terbangun, dan mendapati anak ini di sebelahku. Ketika itu aku baru sadar dan merasakan bahwa inilah sahabatku sebenarnya. Sahabat yang dulu tak pernah kupercaya akan kebenaran dan keberadaannya. Sahabat pemberian Allah kepada hambanNya. Sahabat yang selalu ada di saat suka dan duka, serta selalu mengingatkanku akan diriNya. Inilah arti sahabat yang Allah turunkan kepada diriku, untuk merubahku menjadi pribadi yang lebih baik lagi nantinya. Begitu senangnya diriku, hingga akhirnya aku membangunkannya untuk shalat malam dan bersyukur pada sang Pencipta. Bersyukur karena doaku telah dikabulkan dan aku diberi seorang sahabat untuk dijadikan panutan, dan membuktikan betapa manisnya arti dari persahabatan.
Alhasil, inilah sebenernya sahabat sejatiku. Yang tidak pernah jauh sedikitpun walau bahagia dan sedih menderu. Yang selalu menyebut Allah untuk mengingatkanku. Hanya dirinya yang sangat sering berada di sisiku, mengingatkanku.Ternyata Ahsanlah yang selalu dan sangat siap sedia membantu. Dan sekarang aku ingin memanfaatkan sisa waktu. Karena diri ini mengerti dan paham bahwa waktu cepat berlalu. Dan seiring berjalannya waktu diri ini makin sedih karena ada perpisahan di depan mata yang menjadikan dirinya sangat berharga dan berarti.
“Beli blackberry aja, biar nanti tetep bisa kontak pake bbm” adalah kalimat yang akan kuusahakan untuk kuwujudkan, karena aku tak mau hilang kontak dengan temanku ini, sahabat dan juga saudara bagiku. Dan sekarang Ahsan akan pergi…. menuntut ilmu ke luar negeri. Demi meningkatkan pemahaman keilmuan diri. Dan aku…. hanya berdiri sendiri di negeri ini. Walau sedih, tapi harus tetap kujalani. Sering kuutarakan betapa sedihnya menghitung hari akan melihatnya pergi. Namun selalu dijawab dengan kata bijak yang bisa membuat diri senang. “Makanya cepet lulus, kan nanti bisa ketemu di Jerman”, sebuah kata penyemangat diri untuk dapat menyelesaikan study dan berusaha mendapatkan scholarship untuk study abroad.
Jangan menyempitkan makna persahabatan tapi jadikanlah luas seluas lautan. Kalau aku menyempitkan, hanya sedih yang nanti akan menjadi sebuah kesalahan.Bahwa di sekitar kita masih banyak orang baik yang jangan kau lupakan. Dan sampai sekarang, kata-kata Ahsan terus menjadi sandaran. Bahwa Allah telah menurunkan seorang sahabat terbaik sekaligus sebagai panutan.
Selamat bertemu lagi kawan karena aku tidak akan mengucapkan kata perpisahan. Aku ingin berjumpa denganmu lagi di tahun depan, beberapa tahun kemudian, baik di Indonesia maupun di Jerman. Kau telah menjadi sahabat sejati yang telah aku dambakan. Membuatku terus belajar tentang arti penting Tuhan, arti kehidupan serta manisnya dunia persahabatanPersahabatan.....
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih
Dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu
Karena kau menghampirinya saat hati lupa
Dan mencarinya saat jiwa mau kedamaian
Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya
Kau tiada takut membisikkan kata ‘Tidak’ di kalbumu sendiri
Pun tiada kau menyembunyikan kata ‘Ya’
Dan bilamana dia diam, hatimu berhenti dan mendengar hatinya
Merangkum setiap bahasa di kalbunya untukmu
Karena tanpa ungkapan kata, dalam persahabatan
Segala fikiran, hasrat, dan keinginan
Dilahirkan bersama dan terlahir sebagai kebahagiaan yang tak ternilai
Dikala berpisah dengan sahabat
Tiadalah kau berduka cita
Karena yang paling kau kasihi dalam dirinya
Mungkin kau lebih jelas dalam ketiadaannya
Bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki
Nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran
Dan tiada maksud lain dari persahabatan
Kecuali saling memperkaya roh kejiwaan
Karena kasih sayang yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya
Bukanlah kasih sayang, tetapi sebuah jala yang ditebarkan
Hanya menangkap hal yang tidak diharapkan
Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu
Jika dia harus tahu musim surutmu
Biarlah dia mengenali pula musim pasangmu
Gerangan apa sahabat itu jika kau senantiasa mencarinya
Untuk sekedar bersama dalam membunuh sang waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Karena dialah yang bisa mengisi kekuranganmu
Bukan mengisi kekosonganmu
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria
Dan berbagai kegembiraan
Karena dalam titisan kecil embun pagi
Hati manusia menemui fajar dan gairah kehidupan